Doa-Doa Nabi Ibrahim yang Diabadikan dalam Al-Quran
Doa-Doa Nabi Ibrahim yang Diabadikan dalam Al-Qur’an adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 15 Dzulhijjah 1447 H / 1 Juni 2026 M.
Kajian Tentang Doa-Doa Nabi Ibrahim yang Diabadikan dalam Al-Qur’an
Di antara doa Nabi Ibrahim Alaihis Salam yang diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah permohonan untuk mendapatkan keturunan yang saleh:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 100)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa tersebut dengan memberikan kabar gembira mengenai kelahiran seorang anak yang amat sabar, sebagaimana firman-Nya pada ayat berikutnya:
فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 101)
Doa mulia lainnya dari Nabi Ibrahim Alaihis Salam berisi permohonan agar diri beliau dan keturunannya senantiasa menegakkan salat, serta permohonan ampunan pada hari kiamat:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
“Ya Rabbku, jadikanlah aku orang yang menegakkan salat dan demikian juga dari keturunanku. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim[14]: 40-41)
Nabi Ibrahim Alaihis Salam juga memohon keselamatan bagi negeri tempat tinggalnya dan perlindungan dari penyembahan berhala:
رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim[14]: 35)
Selain ayat-ayat tersebut, rangkaian doa Nabi Ibrahim Alaihis Salam lainnya juga diabadikan di dalam Al-Qur’an, di antaranya pada surah Al-Baqarah ayat 127-129 serta surah Asy-Syu’ara ayat 83-89. Hal ini menjadi bukti nyata atas keistimewaan kedudukan beliau di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Meninggikan Pondasi Baitullah
Keistimewaan lain yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim Alaihis Salam adalah perannya sebagai orang yang meninggikan pondasi Masjidil Haram, yaitu pondasi Ka’bah.
Setelah meletakkan istrinya, Ibunda Hajar, dan putranya, Nabi Ismail Alaihis Salam, di lembah gersang yang tidak memiliki tumbuh-tumbuhan, Nabi Ibrahim Alaihis Salam kembali lagi setelah berlangsung beberapa waktu untuk menemui keduanya. Kepulangan beliau kali ini membawa tujuan mulia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu untuk membangun Baitullah di tempat tersebut.
Peristiwa pertemuan ini diceritakan dalam sebuah riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuradhiallahu anhuma yang menjelaskan bahwa setelah sekian lama berpisah, Nabi Ibrahim Alaihis Salam datang kembali dan menjumpai Nabi Ismail Alaihis Salam yang sedang meraut panah di bawah pohon besar dekat sumur Zamzam. Nabi Ismail Alaihis Salam dikenal sebagai seorang yang sangat pandai memanah.
Ketika Nabi Ismail Alaihis Salam melihat kedatangan ayahnya, beliau langsung berdiri menyambutnya. Keduanya kemudian saling berpelukan untuk melepas rasa kerinduan yang mendalam antara anak dan ayah yang telah lama tidak bertemu. Setelah itu, Nabi Ibrahim Alaihis Salam berkata kepada putranya mengenai perintah yang diterimanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا إِسْمَاعِيلُ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي بِأَمْرٍ
“Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku dengan sebuah perintah.” (HR. Bukhari)
Ketika Nabi Ibrahim Alaihis Salam menyampaikan adanya perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi Ismail Alaihis Salam langsung memberikan tanggapan yang penuh dengan ketundukan:
فَاصْنَعْ مَا أَمَرَكَ رَبُّكَ
“Lakukan apa yang diperintahkan oleh Rabbmu.” (HR. Bukhari)
Nabi Ibrahim Alaihis Salam kemudian bertanya mengenai kesediaan putranya untuk membantu:
وَتُعِينُنِي؟
“Apakah engkau mau membantuku?” (HR. Bukhari)
Pertanyaan tersebut dijawab oleh Nabi Ismail Alaihis Salam dengan penuh keyakinan:
وَأُعِينُكَ
“Aku pasti membantumu.” (HR. Bukhari)
Sikap ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa Nabi Ismail Alaihis Salam merupakan seorang anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Beliau tidak membantah sedikit pun, melainkan justru ikut serta membantu menyukseskan urusan orang tuanya.
Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap anak yang masih memiliki orang tua agar senantiasa membantu mereka, atau minimal tidak melakukan tindakan yang dapat membuat orang tua merasa sedih, kecewa, dan menangis. Fenomena di masyarakat menunjukkan adanya anak yang justru gemar mengecewakan dan menyedihkan hati orang tua. Perbuatan tersebut merupakan bentuk kedurhakaan. Keberkahan hidup, pengangkatan derajat, kedekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, pengabulan doa, serta kemuliaan di dunia dan akhirat hanya akan diperoleh melalui jalan berbakti kepada kedua orang tua.
Proses Pembangunan Ka’bah dan Makam Ibrahim
Nabi Ibrahim Alaihis Salam menjelaskan titik lokasi pembangunan rumah ibadah tersebut kepada putranya berdasarkan petunjuk wahyu:
فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَبْنِيَ بَيْتًا هَهُنَا
“Sesungguhnya Allah telah memerintahkan aku untuk membangun sebuah rumah di sini.” (HR. Bukhari)
Nabi Ibrahim Alaihis Salam kemudian mengisyaratkan tangannya ke sebuah tempat yang posisinya lebih tinggi daripada area di sekitarnya. Di lokasi itulah Nabi Ibrahim Alaihis Salam bersama Nabi Ismail Alaihis Salam mulai meninggikan pondasi-pondasi Ka’bah.
Berdasarkan riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuradhiallahu anhuma, proses pembangunan tersebut berjalan dengan pembagian tugas yang harmonis antara ayah dan anak:
فَجَعَلَ إِسْمَاعِيلُ يَأْتِي بِالحِجَارَةِ وَإِبْرَاهِيمُ يَبْنِي
“Maka mulailah Ismail membawa batu-batu dan Ibrahim yang membangunnya.” (HR. Bukhari)
Ketika struktur bangunan Ka’bah sudah semakin tinggi, Nabi Ibrahim Alaihis Salam mulai mengalami kesulitan untuk menjangkau bagian atas bangunan. Nabi Ismail Alaihis Salam kemudian berinisiatif mendatangkan sebuah batu besar sebagai pijakan untuk ayahnya:
حَتَّى إِذَا ارْتَفَعَ الْبِنَاءُ، جَاءَ بِهَذَا الْحَجَرِ فَوَضَعَهُ لَهُ، فَقَامَ عَلَيْهِ، وَهُوَ يَبْنِي وَإِسْمَاعِيلُ يُنَاوِلُهُ الْحِجَارَةَ
“Sehingga ketika bangunan sudah tinggi, Ismail mendatangkan batu ini lalu meletakkannya untuk Ibrahim. Maka Ibrahim berdiri di atas batu tersebut sambil melanjutkan bangunan, sementara Ismail menjulurkan batu-batu kepadanya.” (HR. Bukhari)
Batu tempat berdiri Nabi Ibrahim Alaihis Salam selama proses pembangunan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Makam Ibrahim. Istilah makam dalam konteks ini merupakan isim makam (kata tunjuk tempat) yang berasal dari kata qaama-yaquumu-qiyaman, yang berarti tempat berdiri, bukan bermakna kuburan tempat Nabi Ibrahim Alaihis Salam dimakamkan. Di atas batu tersebut terdapat bekas cetakan kedua telapak kaki Nabi Ibrahim Alaihis Salam yang murni menjadi bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Doa dan Ketawaduan dalam Beramal
Sambil terus bekerja meninggikan pondasi Baitullah, Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan Nabi Ismail Alaihis Salam senantiasa mengiringi aktivitas mereka dengan memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 127)
Sikap yang ditunjukkan oleh kedua nabi tersebut memberikan pelajaran mendalam mengenai hakikat ketawaduan dalam beramal. Meskipun amalan yang mereka lakukan merupakan sebuah amalan yang sangat besar, yaitu membangun Ka’bah atas perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka berdua tidak pernah merasa sombong atau merasa pasti bahwa amalan tersebut akan langsung diterima.
Hal ini menjadi teguran keras bagi manusia pada umumnya yang sering kali merasa aman dan yakin amalannya telah diterima, padahal kuantitas dan kualitas amal yang dilakukan masih tergolong sangat minim.
Nabi Ibrahim Alaihis Salam mengajarkan teladan yang baik kepada seluruh umat manusia untuk senantiasa mengiringi amal kebaikan dengan doa agar amalan tersebut diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa mulia ini diabadikan di dalam Al-Qur’an:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Rabb kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 127)
Di samping perintah membangun, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan Nabi Ibrahim Alaihis Salam untuk mensucikan rumah-Nya dari najis hisiah maupun maknawiah. Najis hisiah merupakan kotoran yang tampak oleh indra, sedangkan najis maknawiah berupa praktik kesyirikan. Perintah untuk membersihkan Ka’bah secara lahir dan batin ini diabadikan di dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 26.
Setelah proses pensucian selesai, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim Alaihis Salam untuk mengumumkan ibadah haji kepada seluruh umat manusia agar berdatangan ke tanah suci ini:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj[22]: 27)
Ayat tersebut membuktikan bahwa umat manusia sebenarnya sudah dipanggil untuk menunaikan ibadah haji sejak masa Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Oleh karena itu, sebuah kekeliruan besar apabila ada seseorang yang telah memiliki kecukupan harta serta kesehatan badan, namun enggan mendaftar haji dengan alasan belum mendapatkan panggilan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ungkapan tersebut menunjukkan ketidakpahaman terhadap hakikat ibadah haji. Masalah yang sesungguhnya bukan terletak pada ada atau tidaknya panggilan, melainkan pada bagaimana bentuk respon manusia dalam menyambut kewajiban yang telah diserukan sejak ribuan tahun lalu tersebut.
Kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan Ayahandanya
Pembahasan selanjutnya memasuki bab mengenai kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam bersama ayahandanya yang bernama Azar. Di dalam literatur Islam, para ulama berbeda pendapat mengenai nama asli dari ayah Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Perbedaan tersebut terbagi ke dalam dua pendapat utama:
- Pendapat Pertama: Sebagian ulama menyatakan bahwa nama asli dari bapak Nabi Ibrahim Alaihis Salam adalah Azar, sebagaimana yang disebutkan secara tekstual di dalam beberapa ayat Al-Qur’an.
- Pendapat Kedua: Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa nama asli beliau adalah Tarikh. Penulisan nama Tarikh ini menggunakan huruf ha muhmalah, yaitu huruf ha polos yang tidak memiliki tanda titik di atasnya. Pendapat kedua ini merupakan pandangan yang dipegang oleh mayoritas (jumhur) ahli nasab atau pakar silsilah sejarah keturunan terdahulu.
Terdapat riwayat dari kalangan ahli kitab yang menukil bahwa nama ayah Nabi Ibrahim Alaihis Salam adalah Tarikh, baik ditulis menggunakan huruf ha muhmalah maupun menggunakan huruf kha mu’jamah. Istilah mu’jamah merujuk pada huruf yang memiliki tanda titik penjelas untuk membedakannya dengan huruf polos tanpa titik (muhmalah). Istilah ini lazim digunakan pada masa awal perkembangan tulisan Arab ketika kodifikasi tanda baca belum sesempurna masa sekarang yang sudah sangat mudah dibedakan oleh pembaca.
Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai nama tersebut, penulis kitab, yaitu Abu Islam rahimahullah, menetapkan pandangan yang terkuat (rajih) bahwa nama ayah Nabi Ibrahim Alaihis Salam yang tepat adalah Azar (wa al-qaulu ar-rajihu huwa al-qaulu al-awwalu anna ismahu Azaru). Ketetapan ini bersandarkan pada dalil-dalil kuat berikut:
1. Dalil Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nama tersebut secara tekstual di dalam firman-Nya:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar: ‘Pantaslah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al-An’am[6]: 74)
2. Dalil Hadits Sahih
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan nama tersebut ketika mengabarkan sebuah peristiwa gaib pada hari kiamat. Setiap perkara gaib wajib diimani sepenuhnya selama bersumber dari dalil Al-Qur’an dan sunah yang valid. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يَلْقَى إِبْرَاهِيمُ أَبَاهُ آزَرَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَعَلَى وَجْهِ آزَرَ قَتَرَةٌ وَغَبَرَةٌ
“Ibrahim bertemu dengan ayahnya, Azar, pada hari kiamat, sedangkan pada wajah Azar terdapat kehitaman dan debu.” (HR. Bukhari)
3. Kesepakatan Pakar Tafsir
Pendapat ini merupakan pandangan resmi yang terjaga (mahfud) di kalangan ulama terkemuka. Pandangan ini dipilih langsung oleh Umdatul Mufassirin (sandaran para ahli tafsir), yaitu Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah, yang menegaskan bahwa nama yang paling tepat berdasarkan dalil adalah Azar.
Awal Mula Dakwah di Tengah Keluarga Penyembah Berhala
Nabi Ibrahim Alaihis Salam tumbuh besar di lingkungan kaum yang fanatik menyembah berhala dan berpaling dari penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ironisnya, figur yang berada di barisan terdepan dalam lingkaran kesesatan tersebut adalah ayah beliau sendiri, yaitu Azar.
Azar bukan sekadar pengikut, melainkan bertindak langsung sebagai produsen yang membuat berhala-berhala kotor tersebut dengan tangannya sendiri, kemudian memperjualbelikannya kepada masyarakat untuk dijadikan sesembahan. Kondisi keluarga yang memprihatinkan ini menjadi ujian dakwah yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim Alaihis Salam saat memulai seruan tauhidnya.
Nabi Ibrahim Alaihis Salam memulai dakwahnya dengan mengajak manusia kepada akidah tauhid (yadu’un nasa ila aqidatit tauhid). Beliau memperingatkan masyarakat secara tegas agar menjauhi kesyirikan, serta menjelaskan bahwa berhala-berhala yang mereka sembah tidak dapat mendatangkan kemudharatan maupun memberikan kemanfaatan sedikit pun. Di dalam Islam, zat yang mutlak kuasa untuk memberikan mudharat dan manfaat hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Manhaj para nabi dalam menyebarkan dakwah tauhid selalu mengutamakan orang-orang terdekat terlebih dahulu (bil aqrabin). Metode ini didasarkan pada instruksi yang juga diterima oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 214)
Segera setelah ayat tersebut turun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri dan mengumpulkan kaumnya untuk menyampaikan seruan tauhid secara terbuka. Beliau bersabda:
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ، لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لاَ أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
“Wahai sekalian orang Quraisy, tebuslah diri kalian (dari azab Allah), aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari azab Allah. Wahai Bani Abdi Manaf, aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari azab Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari azab Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari azab Allah. Dan wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah kepadaku apa saja dari hartaku, aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari azab Allah.” (HR. Bukhari)
Pernyataan tegas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada putri tercintanya, Fatimah, menguatkan prinsip bahwa tidak ada satupun makhluk yang dapat memberikan perlindungan dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berdasarkan manhaj prioritas tersebut, Nabi Ibrahim Alaihis Salam menetapkan langkah awal dakwahnya kepada bapaknya sendiri, yaitu Azar. Langkah ini memberikan keteladanan bagi setiap muslim agar senantiasa memperhatikan kondisi spiritual anggota keluarga sendiri, seperti istri dan anak-anak, sebelum sibuk berdakwah kepada orang lain di luar rumah. Kewajiban utama seorang juru dakwah adalah menjaga orang-orang terdekatnya agar tidak jauh dari ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perkara hasil akhir merupakan hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana kisah Nabi Nuh Alaihis Salam yang anaknya tetap memilih jalan kekafiran setelah diupayakan dakwah kepadanya.
Nabi Ibrahim Alaihis Salam memprioritaskan sang ayah karena Azar merupakan manusia yang paling dekat dengan beliau. Ayah merupakan sosok orang tua yang menjadi sebab perantara kehadiran seorang anak di dunia ini setelah takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, kedudukan orang tua menempati posisi yang sangat tinggi di dalam syariat. Hak kedua orang tua merupakan kewajiban terbesar yang harus ditunaikan oleh seorang manusia setelah pemenuhan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aturan mengenai besarnya hak orang tua ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra`[17]: 23)
Kata qada dalam ayat tersebut mengandung makna perintah (amara), wasiat (wasa), dan kewajiban (ajaba). Melalui ayat ini, Rabb semesta alam mewasiatkan agar manusia tidak beribadah kepada selain-Nya, kemudian menyandingkan perintah tersebut langsung dengan kewajiban berbakti kepada kedua orang tua.
Penyusunan redaksi ayat ini menjadi bukti konkret bahwa posisi orang tua menempati urutan nomor satu setelah hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, bakti kepada orang tua merupakan kunci utama bagi seorang anak untuk meraih kesuksesan hidup di dunia maupun di akhirat. Sejarah mencatat tidak ada seorang pun nabi, rasul, sahabat, ulama, maupun orang saleh terdahulu yang meraih kemuliaan melainkan karena mereka adalah pribadi yang sangat berbakti kepada orang tua.
Penegasan mengenai urutan hak ini juga diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (QS. An-Nisa`[4]: 36)
Prinsip birrul walidain (berbakti kepada orang tua) selalu ditempatkan tepat setelah perintah menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan larangan berbuat syirik. Keutamaan berbakti kepada orang tua dipertegas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhuradhiallahu anhu. Beliau bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ ” الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا ”. قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ ” ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ”. قَالَ ثُمَّ أَىّ قَالَ ” الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ”
“Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau bersabda: ‘Salat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau bersabda: ‘Berjihad di jalan Allah’.” (HR. Bukhari)
Berdasarkan urutan hadits tersebut, tingkat keutamaan berbakti kepada orang tua berada di atas jihad fardhu kifayah di jalan Allah. Keutamaan ini dikuatkan oleh kisah seorang pemuda yang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta izin ikut berjihad, sementara kedua orang tuanya masih hidup. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian memerintahkan pemuda tersebut untuk kembali pulang melalui sabda beliau:
أَحَىٌّ وَالِدَاكَ ”. قَالَ نَعَمْ. قَالَ ” فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ
“Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Pemuda itu menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka pada keduanyalah kamu berjihad.” (HR. Bukhari)
Bakti kepada kedua orang tua dikategorikan sebagai sebaik-baik jihad karena proses melaksanakannya menuntut perjuangan yang berat. Seorang anak dituntut untuk mencurahkan tenaga dalam menjaga kehormatan orang tua, serta menjaga perasaan mereka dengan penuh kehati-hatian agar tidak sampai terluka atau menangis.
Remaja masa kini hendaknya meneladani kepatuhan para sahabat muda generasi terdahulu, dan menjauhkan diri dari sikap manja atau mudah meluapkan emosi (tantrum) hanya karena keinginannya untuk memiliki barang tertentu tidak dipenuhi oleh orang tua. Menjadi hal yang memprihatinkan apabila seorang anak yang sudah memasuki usia pernikahan masih terus menyusahkan dan menggantungkan hidupnya kepada orang tua. Seseorang yang belum mampu membahagiakan orang tua, minimal harus berusaha keras untuk tidak membuat mereka merasa sedih dan kecewa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan wasiat yang sangat jelas kepada setiap anak untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya. Di dalam untaian wasiat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala secara khusus menyebutkan pengorbanan besar seorang ibu terlebih dahulu:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan berterima kasihlah kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman[31]: 14)
Melalui ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan betapa beratnya perjuangan seorang ibu yang telah mengandung anaknya dalam kondisi fisik yang lemah dan terus bertambah lemah, kemudian dilanjutkan dengan fase menyusui hingga menyapihnya setelah genap berusia dua tahun. Atas dasar pengorbanan yang luar biasa itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya dan berterima kasih kepada kedua orang tua, serta mengingatkan bahwa semua makhluk kelak akan dikembalikan kepada-Nya.
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَا أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya didunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman[31]: 15)
Urutan Hak Kerabat dan Kewajiban Dakwah kepada Orang Tua
Wasiat mengenai prioritas dalam berbakti dan berbuat baik kepada keluarga telah ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam sebuah hadits:
إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِالأَقْرَبِ فَالأَقْرَبِ
“Sesungguhnya Allah berwasiat kepadamu untuk berbakti kepada ibu-ibumu, kemudian Allah berwasiat kepadamu untuk berbakti kepada ibu-ibumu, kemudian Allah berwasiat kepadamu untuk berbakti kepada ayah-ayahmu, kemudian Allah berwasiat kepadamu untuk berbuat baik kepada kerabat yang terdekat lalu yang terdekat.” (HR. Ibnu Majah)
Berdasarkan tuntunan hadits tersebut, urutan pertama yang paling berhak mendapatkan kebajikan dari seorang anak adalah ibu, kemudian ayah, lalu diikuti oleh kerabat lain berdasarkan kedekatan hubungan kekerabatan.
Atas dasar kedekatan hubungan inilah, Azar selaku ayah kandung memiliki hak yang besar atas Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Hak tersebut diwujudkan oleh Nabi Ibrahim Alaihis Salam dalam bentuk penyampaian dakwah untuk memberikan petunjuk (hidayatul bayan) menuju jalan yang lurus, serta upaya untuk menyelamatkan sang ayah dari jurang kesesatan yang nyata. Alasan pertama Nabi Ibrahim Alaihis Salam memprioritaskan dakwah kepada ayahnya adalah karena Azar merupakan manusia yang paling dekat nasabnya dengan beliau.
Alasan kedua Nabi Ibrahim Alaihis Salam memulai dakwah kepada Azar adalah karena posisi sang ayah yang bertindak sebagai produsen utama, penyedia, sekaligus penjual berhala-berhala di tengah masyarakat. Azar bukan sekadar pembuat patung, melainkan juga figur yang aktif mengajak orang lain untuk menyembah berhala-berhala tersebut.
Kondisi tersebut menjadikan Azar sebagai seorang penyeru kepada perbuatan dosa (ad-da’iyatu) sekaligus menjadi sumber fitnah di lingkungannya. Menyadari posisi strategis sang ayah dalam lingkaran kesesatan tersebut, Nabi Ibrahim Alaihis Salam mengutamakan dakwah kepadanya.
Membimbing seorang ayah agar mendapatkan hidayah merupakan sebuah bentuk pendekatan diri yang bernilai ibadah sangat tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala (qurbatun ilallah). Selain itu, mendakwahi tokoh utama pembuat berhala merupakan langkah strategis dalam rangka mencabut benih-benih keburukan serta memotong akar kesesatan langsung dari sumber utamanya.
Langkah dakwah yang ditempuh oleh Nabi Ibrahim Alaihis Salam kepada ayahnya menjadi contoh nyata dari pengamalan perintah untuk menyelamatkan keluarga terdekat dari kebinasaan.
Kajian mengenai awal kisah perjuangan dakwah Nabi Ibrahim Alaihis Salam bersama ayahandanya ini disudahi sampai di sini untuk dilanjutkan pada kesempatan berikutnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menganugerahkan pahala yang berlimpah serta umur yang panjang dalam ketaatan bagi kaum muslimin sekalian.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Doa-Doa Nabi Ibrahim yang Diabadikan dalam Al-Qur’an” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56295-doa-doa-nabi-ibrahim-yang-diabadikan-dalam-al-quran/